Oleh : Deepak Chopra
Jika Anda pergi ke gereja di abad ke-18, Anda akan mendengar Tuhan yang digambarkan seperti sesosok pembuat jam surgawi yang menciptakan alam semesta dan kemudian meninggalkannya berjalan dengan sendirinya. Saat ini, sang pencipta itu adalah Big Bang dan bagian dari jam tersebut adalah partikel subatom. Tapi masalah dalam apa yang menciptakan materi tersebut dari kekosongan adalah tetap sama.
Bagaimana material bisa dibentuk dari yang bukan material? Apa yang memberikan partikel tersebut massa, dan bagaimana mereka saling menyatu? Para ilmuwan di fasilitas CERN di Eropa saat ini sibuk dengan fasilitas bernilai miliaran dolar untuk membuat Hadron Collider yang besar yang mencoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang adanya sub partikel yang dinamakan boson Higgs yang sulit dipahami, yang disebut “partikel Tuhan.”
Pencarian berlangsung antara yang terlihat dan tak terlihat. Subpartikel Hipotetis Higgs adalah partikel virtual, yang berarti hanya dapat dideteksi saat memasuki ruang-waktu untuk hanya sekejap sekitar satu milidetik. Higgs ini beroperasi pada skala Planck, yang jutaan kali lebih kecil dari inti atom.
Kegembiraan atas ditemukannya partikel Higgs adalah bahwa ilmu fisika akan menemukan mekanisme bagaimana dunia nyata ini muncul dari sesuatu yang tidak berwujud. Itu adalah tindakan sedekat mungkin yang ilmu fisika bisa dapatkan tentang penciptaan ilahi. Namun ada ironi dalam mendasarkan alam semesta fisik padat dari sesuatu yang bukan apa-apa. Mungkinkah ini sebenarnya tempat dimana materialisme menghancurkan dirinya sendiri dari dalam? boson Higgs dapat menjadi kunci untuk membuka misteri penciptaan dengan menegaskan hal yang sangat berbeda dari sekedar mimpi materialisme.
Dengan asumsi bahwa partikel itu sendiri memungkinkan untuk ditemukan, langkah kedua adalah eksplorasi dari domain tak terlihat tersebut. Secara harfiah dari yang bukan ada apa-apa/nothingness, namun sesungguhnya semuanya berasal dari itu. Berabad-abad yang lalu tradisi kebijaksanaan kuno dunia telah membandingkan penciptaan dalam skala kecil untuk penciptaan dalam skala besar. Para bijak besar mencatat bahwa pikiran kita adalah bukan apa-apa, juga. Sebelum pikiran muncul, ada kekosongan dan keheningan. Namun sekali pikiran menghasilkan kreasi, mereka menjadi kuat, bermakna, dan koheren.
Penciptaan tidak bergerak dari yang tidak terlihat menjadi terlihat dengan partikel acak seperti buih di permukaan laut. Mereka terlihat acak dalam Large Hadron Collider, tetapi para ilmuwan yang menjalankan mesin, yang juga adalah bagian dari penciptaan, tidak memiliki wadah yang melayang terpisah menjadi partikel awan. Sebaliknya, tubuh kita, seperti halnya otak manusia dan DNA itu sendiri, yang dengan indah memerintahkan kreasi, sangatlah jauh dari sekedar peristiwa acak.
Kekuatan fisika tidak bisa menerangkan susunan yang indah seperti itu, apalagi bahwa kita berasal darinya, itulah sebabnya mengapa Tuhan menjadi ada. Partikel Tuhan membuktikan partikel terkecil dari jam tersebut tetapi bukan pembuatnya. Saya tidak bemaksud berkata bahwa ada orang berada di atas langit yang membuat alam semesta. Dengan menjaga ketat pandangan dunia ilmiah, penciptanya haruslah bersifat impersonal, cerdas, universal, tak terlihat, namun nyata dalam dunia yang kelihatan. Satu-satunya kandidat yang layak adalah ‘kesadaran’.
Partikel Higgs boson merupakan batu loncatan kecil menuju teori penciptaan yang terletak dalam kesadaran sebagai hal utama dari kosmos. Banyak teori yang sudah sampai disana, bahkan sudah beberapa dekade sebelumnya sejak konsep alam semesta kesadaran diri telah dikembangkan.
Suatu hari nanti akan menjadi hal biasa untuk mengakui bahwa domain yang tidak berwujud, yang bukan berujud material dari fisika kuantum adalah kesadaran. Dalam dunia virtual, hal-hal seperti partikel non-lokalitas, dan ketidakpastian, ada tidak dalam bentuk, padat, atau berwarna. Keberadaan mereka adalah tampilan kecenderungan yang sekilas, dan kemungkinan superposisi. Ini akan menjadi realisasi besar bagi ilmu pengetahuan untuk mengakui bahwa semua kecenderungan dan kualitas tersebut adalah kecenderungan dari kesadaran.
Langkah ketiga untuk pemahaman sepenuhnya terhadap alam semesta akan menghubungkan dengan kesadaran, yang merupakan inti dasar kosmos, dengan pengalaman pribadi dari kesadaran kita. Dasar eksistensi kita adalah sama dengan keadaan dasar alam semesta. Ini adalah pesan dari Vedanta: Atman adalah Brahman. Kesadaran individu yang terbangun sepenuhnya adalah sama dengan sifat penting dari keseluruhan kosmos. Entah bagaimana kesadaran kita berpartisipasi adalah merupakan bagian integral dari penciptaan alam semesta. Sayangnya, pada saat kita mulai menyadari benar-benar peran kreatif kita, tindakan bodoh kita mungkin sudah menghancurkan rumah planet kita.
Fungsi kreatif kesadaran dalam mekanika kuantum pada awalnya digariskan dalam Interpretasi Kopenhagen yang mengatakan bahwa pengamat diperlukan untuk meruntuhkan fungsi gelombang menjadi kejadian tunggal dan menghasilkan hasil yang bisa diukur. Tanpa pengamat sadar, fungsi gelombang tetap merupakan superposisi dari kondisi tunggal yang tidak nyata.
Banyak Teori dari mekanika kuantum berusaha untuk menghindari pengaruh dari pengamat dan runtuhnya fungsi gelombang dengan memposisikan cukup semesta paralel untuk menampung semua keadaan yang mungkin dari fungsi gelombang. Tapi pada akhirnya, untuk memecahkan masalah pengukuran tanpa pengamat, alat pengukur fisik dibutuhkan namun ketika dianalisis secara kuantum mekanik itu sendiri tidak menjadi fungsi gelombang, atau superposisi dari energi eigenstates. Tidak ada yang bisa menjelaskan dalam bentuk apa materi tersebut mungkin menjadi.
Transaksional Interpretation menjelaskan interaksi kuantum sebagai gelombang yang berdiri terbentuk oleh mundurnya (maju-secara-waktu) dan majunya (mundur-secara-waktu) gelombang. Disini diasumsikan bahwa interaksi dengan perangkat pengukuran entah bagaimana mengaktifkan emisi gelombang kemungkinan yang mundur dalam waktu. Ini adalah cara untuk menghindari kebutuhan pengamat, tapi seperti banyak teori alam semesta juga menyiratkan alam semesta dualistik yang membawa kita ke luar dari aturan pengukuran kuantum. Sekali lagi, peralatan yang mengukur fungsi gelombang harus terbuat dari materi yang tidak mematuhi fisika kuantum dengan kemungkinan adanya superposisi .
Sebuah teori yang lebih menjanjikan dari mekanika kuantum adalah paradigma David Bohm tentang aturan yang melibatkan dan menjelaskan keutamaan mana yang diberikan kepada keutuhan atas bagian-bagian yang meliputi ruang, waktu, partikel, dan keadaan kuantum. Dalam pandangan ini, bagian-bagian terungkap dari keseluruhan.
Sir Roger Penrose dan Hameroff Stuart, PhD. telah mengembangkan model pengurangan objektif yang diatur (Orch OR) dan ini saya anggap menjadi teori paling progresif untuk menjembatani kesadaran universal dan kesadaran individu. Penrose memulai dengan posisi bahwa kesadaran pada dasarnya non-algoritmik dan karenanya tidak bisa digandakan oleh sebuah komputer atau mesin. Dia mengusulkan bahwa kesadaran dapat dijelaskan melalui teori kuantum dengan tipe baru fungsi gelombang yang runtuh dalam otak. Keahlian Hameroff di bidang neurofisiologi sepertinya menyediakan link kuantum dalam mikrotubulus di dalam neuron otak. Daripada pandangan konvensional bahwa kesadaran muncul dari perhitungan yang kompleks diantara neuron otak, mereka mengusulkan bahwa kesadaran melibatkan urutan perhitungan kuantum dalam mikrotubulus di dalam sel saraf otak, bukan sekedar hubungan di antara mereka sekedar dalam proyeksi dan penyebaran. Perhitungan kuantum di dalam otak juga bergelombang dalam dasar geometri ruang-waktu, tingkat paling dasar dari alam semesta.
Penrose menunjukkan bahwa keruntuhan fungsi gelombang kuantum terjadi dengan sendirinya di atas skala Planck. Dia mendalilkan bahwa setiap superposisi kuantum memiliki lengkungan ruang-waktu sendiri dan bit-bit berbentuk lengkung ruang-waktu semacam gelembung dalam mempertahankan superposisi ruang-waktu . Tapi ketika itu menjadi lebih besar, di luar skala Planck, pengaruh gravitasi membuatnya tidak stabil dan menjadi runtuh. Itulah tujuan peluruhan atau runtuhnya fungsi gelombang menjadi partikel yang terukur.
Teori ini mendekati perspektif Vedanta, di mana Brahman sang kesadaran semua-adalah dinamika yang berinteraksi dari diri pengamat, mengamati dan proses dari observasi. Proses interaksi diri ini menimbulkan semua keragaman dan fenomena sementara ia sendiri tetap tidak terpengaruh olehnya.Ketika ilmu pengetahuan terus mencoba menggapai pencapaian eksotis dan ekstrim dari fisika kita dapat mengambil beberapa kenyamanan yang kita benar-benar datang lebih dekat untuk memahami apa yang paling akrab dengan kita, kesadaran kita sendiri, diri kita. Yang nyata dari sumber yang tidak berwujud, dan kita berasal dari yang tidak berwujud itulah yang kita sebut Tuhan.

bahasanya sulit dimengerti
Wow, saia kurang tahu mengenai apa yang “serbenarnya” dilakukan oleh CERN berkaitan dengan pencarian partikel Tuhan, namun, Ia sudah mengisyaratkan didalam kitabNya:
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”(Al Israa:85)
mungkin saja partikel Tuhan ini adalah partikel Roh, atau partikel ini hanya bisa “diciptakan” atau dikenali di dimensi yang berbeda dari kita?
(KTT)
Jadi teringat pada ulasan di discovery channel ttg asal muasal alam jagad raya yg berasal dr big bang. Disitu dijelaskan dg bahasa awam mudah dimengerti bahwa big bang persis kebalikannya ledakan bom atom sesuai rumus Einstein E=mc2. Jika pada kasus ledakan bom atom ada massa yg berubah jadi enerji dahsyat, maka dalam big bang yg terjadi adalah suatu enerji super dahsyat berubah jadi massa. Di ulasan Discovery itu dijelaskan juga bahwa semua materi, apapun itu, berasal dari 1 sumber yg sama. Dan kalau musnah, kembali kepada sumber yang satu itu.
Jadi teringat juga pada ajaran seseorang yg mengatakan bahwa dunia materi ini MAYA, bahwa sebenarnya benda yg kita lihat itu tidak ada. Benda itu ada karena ilusi seperti kita melihat awan yg seolah benda padat. Jika unsur terkecil suatu benda yaitu atom, dipecah lagi menjadi proton-elektron, dipecah lagi menjadi quark, seterusnya dipecah lagi maka bagian terkecil adalah cahaya. Sekarang belum terbukti, tapi suatu saat akan. Adanya CERN bisa mempercepat pembuktian ini.
sedikit menjelaskan menurut versi bodoh saya berdasarkan Injil Perjanjian lama (tidak apa-apa ya? namanya sebuah pendapat, kita boleh bebas nyambung atau nggak-nya / benar atau tidaknya, itu adalah hak setiap orang, termasuk saya):
1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. 1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.1:3 Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi”.
aslinya tulisan alkitab tidak ada pasal dan ayatnya, penentuan pasal dan ayat alkitab dilakukan oleh otoritas gereja, tujuannya jelas untuk mempermudahkan saja, penentuan pasal dan ayat alkitab seperti sekarang, nampaknya dilakukan pada saat gereja masih menganut teori geosentris, sehingga makna/arti kata “bumi” pada Kitab kejadian tersebut bermakna harafiah yaitu planet bumi adanya. dan kalo menurut saya bumi disana adalah sebuah bahasa kiasan yang berbetuk bahasa fenomenal, dan BUKANKAH sangat tepat jika ayat 1 sampai ayat 3 itu seharusnya disusun menjadi empat ayat? dan ayat 2 DAN ayat 3, terdapat ketidak cocokan, menurut saya SEHARUSNYA seluruhnya disusun demikian:
AYAT 2: BUMI BELUM BERBENTUK DAN KOSONG,
AYAT 3: DAN GELAP GULITA MENUTUPI SAMUDRA RAYA, DAN ROH ALLAH MELAYANG-LAYANG DI ATAS PERMUKAAN AIR
AYAT 4: BERFIRMANLAH ALLAH ” JADILAH TERANG” LALU TERANG ITU JADI.
kenapa saya nyatakan demikian?
secara pribadi, bagi saya ayat pertama (1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi ) ITU TIDAK LAIN SEMACAM sebuah tema ATAU JUDUL YANG MENGAWALI penjelasan Nabi Musa tentang penciptaan dunia, yaitu sebelum bigbang terjadi, hal ini mengesankan BAHWA Nabi musa menjelaskan kepada kita bahwa TUHAN TELAH MEMULAI PENCIPTAAN ALAM SEMESTA (dunia), YANG SEBELUM ALAM SEMESTA ITU LAHIR (tercipta) NABI MUSA MENERANGKAN KEPADA KITA BAGAIMANA SEBELUM BIGBANG (BAYI ALAM SEMESTA) ITU DICIPTAKAN……YANG DALAM HAL INI ADALAH berupa sedikit info MENGENAI KONDISI DAN SITUASINYA…..dan hal itu di terangkan oleh Nabi musa pada ayat 2 kitab kejadian berdasarkan pasal dan ayat yang kita pakai saat ini. BAHWA DISITU nabi Musa menyebutkan jika situasi dan kondisi dari SAMUDRA RAYA itu masih sangat gelap (gelap gulita menutupi samudera raya), dan sesuatu yang disebut dengan ROH ALLAH itu masih melayang-layang pada sesuatu yang disebut dengan istilah AIR itu (dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air).
secara pribadi (hak) saya menyakini jika sesuatu yang dalam bahasa kitab kejadian disebut dengan bahasa kiasan “SAMUDRA RAYA” itu adalah DIMENSI RUANG PRIMORDIAL (ruang awal/ mungkin ruang absolut), dan yang disebut BUMI adalah DIMENSI MASSA, sementara yang disebut dengan AIR itu adalah sesuatu SEMACAM pra-materi yang DICIPTAKAN jauh sebelumnya oleh Allah, lalu DITEMPATKAN pada dimensi ruang (Samudra raya) itu tadi (yang proses penciptaannya tidak di singkap oleh Allah kepada nabi Musa). Dan yang terakhir sesuatu yang di sebut dengan bahasa kiasan “ROH ALLAH” itu tidak lain adalah semacam pra-materi yang memang berasal dari dimensi keberadaan ALLAH alias surga ato memang adalah bagaian dari Allah sendiri. nah pra materi yang disebut ROH ALLAH itulah PARTIKEL TUHAN yang sesungguhnya. (HARAP DIPAHAMI BAHWA proton, neutron, boson, atom dan lainnya sejatinya adalah materi)
dari informasi yang diceritakan oleh Nabi Musa pada Kitab Kejadian pasal 1 ayat 1 sampai ayat 3 itu, KITA DAPAT MENGETAHUI bahwa sewaktu Tuhan menciptakan bayi alam semesta (Bigbang) itu, SEBELUM BIGBANG TERBENTUK, ia di dahului oleh SALING BEREAKSINYA KEDUA JENIS PRA-MATERI PEMBENTUKNYA, yaitu pra-materi yang disebut dengan AIR yang telah ada dalam ruangan SAMUDRA RAYA dengan pra-materi yang berasal dari luar samudra raya, yang disebut dengan ROH ALLAH itu, yang sebelum BEREAKSI, partikel-partikel pra-materi yang disebut ROH ALLAH masih sempat melayang-layang disekitar / permukaan partikel-partikel pra-materi yang disebut AIR, sehingga sedikit disingkap oleh Allah kepada penglihatan Nabi Musa, lalu Musa menulis apa adanya.
setelah partikel-partikel kedua PRA-MATERI alam semesta itu MENYATU, lalu menjadi sesuatu yang disebut dengan istilah kiasan BUMI (dimensi massa) nah…setelah bersatu untuk beberapa saat Nabi Musa masih mampu melihat sesuatu yang disebut BUMI itu dalam penglihatannya, namun tidak berapa lama TIBA -TIBA sesuatu yang disebut BUMI itu menghilang dari penglihatan nabi Musa, sehingga dengan jujur Nabi Musa lalu menulis BUMI BELUM BERBENTUK (tidak memiliki bentuk) dan dipertegaskannya dengan menulis “DAN KOSONG” Bumi yang belum memiliki bentuk dan kosong itulah yang dalam bahasa sainsnya disebut dengan istilah TITIK SINGULARITAS BIGBANG, yaitu titik padat yang memiliki tekanan besar dan ukuran yang NYARIS BERVOLUME = NOL itu, karena ukurannya yang sangat kecil yang hanya dapat dilihat oleh Tuhan itulah maka Nabi Musa tidak dapat melihatnya lalu menulis BUMI BELUM BERBENTUK DAN KOSONG. dan beberapa lama lalu Nabi Musa melihat TERANG terjadi dengan tiba-tiba, terang inilah yang disebut dengan istilah BIGBANG menurut sains. terang ini terjadi sebagai akibat dari telah mulai terbentuknya / lahirnya partikel-partikel materi-materi pembentuk atom.
proses enam hari penciptaan dalam Alkitab merupakan peng-implementasi-an proses penciptaan alam semesta yang selama 6 tahapan, oleh ALLAH melalui penglihatan yang diberikannya selama 6 hari berturut-turu kepada nabi Musa. pagi dan petang dari hari yang disebutkan di Alkitab= pagi dan petang dari hari sewaktu Tuhan memperlihatkan proses penciptaannya kepada Nabi Musa.
apakah partikel Tuhan yang ditemukan pihak CERN benar = sesuatu yang di sebut ROH ALLAH pada proses penciptaan dalam Alkitab itu? JAWABAN PASTI SAYA ADALAH kita manusia tidak mungkin dapat memastikannya. (titik)
penjelasan super sederhananya menurut saya, saya abadikan disini http://k-yu80.blogspot.com/2011/05/bigbang-alkitab.html
Henky mungkin kamu lagi hanged ya, makanya pahami dahulu partikel tuhan atau boson-higgs itu, baru mengutip tulisan Deepak Chopra. Ini ilmuwan Barat mencoba memahami kenapa partikel dapat mempunyai massa atau berat. Jadi kalau ada partikel tidak ber-massa maka ada anti partikel dan energinya luar biasa. Yahh manusia itu seperti bayi mencoba memahami ilmu Tuhan YME. Walau penemu teori ini Peter Higgs mengaku seorang Atheist, tetapi dia tidak memungkiri bahwa tubuh manusia itu IRREVERSIBLE alias AKAN MATI. Nobody knows meaning of the death. Sains pun bingung fisika ENERGI GELAP yang mengendalikan ALAM SEMESTA, apalagi soal jiwa atau roh atau human-mind dan misteri kematian.